Pohon Pinus Yang Memiliki Potensi Ekonomi Besar Untuk Industri

pohon pinus

Pohon Pinus atau tusam merupakan  tanaman yang getahnya banyak dimanfaatkan untuk  kepentingan industri. Di negara maju, terpentin dari pohon pinus digunakan sebagai bahan baku tinta pulpen merk terkenal berharga mahal. Nilai ekonomis terpentin dan gondorukem yang dihasilkan getah pinus tidak dapat ditemukan pada jenis tanaman hutan lainnya. Oleh karena itu, pinus sangat berpotensi untuk diusahakan mengingat permintaan terhadap bahan baku tinta pulpen tersebut cukup tinggi dan belum terpenuhi.

A. Sekilas Tentang Pinus

pohon pinusPinus merkusii ditemukan pertama kali dengan nama tusam di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli botani dari Jerman Dr. F. R. Junghuhn. Jenis ini tergolong dalam jenis tanaman yang cepat tumbuh dan tidak memerlukan perlakuan khusus. Tinggi Pinus merkusii dapat  mencapai 20-40 meter dengan diameter 100 cm dan batang bebas cabang  2-23 meter. Batang pinus tidak berbanir dan kulit luar relatif kasar berwarna cokelat kelabu sampai cokelat tua. Daunnya dalam berkas dua dan berkas jarum yang pada pangkalnya dikelilingi oleh suatu sarung dari sisik.

Pohon pinus berbunga dan berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Juli sampai dengan november. Bunga jantan tertumpuk  seperti bulir pada pangkal tunas yang muda, sedangkan bunga betina terkumpul dalam jumlah kecil pada ujung tunas yang muda. Biji yang baik warna kulitnya kering kecokelatan, bentuk bijinya bulat, padat, dan tidak berkerut.  Jumlah biji kering sekitar 57.900 butir per kg.

B. Syarat Tumbuh

Pinus memerlukan kondisi yang kondusif untuk mendukung pertumbuhannya.  Syarat tumbuh yang sesuai akan menciptakan kualitas kayu yang baik, demikian juga dengan kualitas  getah  yang dihasilkan. Persyaratan tumbuh tersebut meliputi tanah, iklim,  curah hujan,  dan  kelembapan.

Baca Juga : Budidaya Bibit Rumput Gajah yang Menguntungkan

Tanah

Pinus merkusi banyak dijumpai tumbuh di belahan bumi bagian selatan. Pohonnya bertajuk lebat dan berbentuk kerucut. Di samping itu, pohon ini mempunyai perakaran yang cukup dalam dan kuat. Pinus bisa tumbuh pada berbagai tipe jenis tanah dengan lapisan tanah yang tebal/dalam, pH tanah asam, dan tekstur tanah ringan sampai sedang.

Ketinggian tempat

Walaupun jenis ini bisa tumbuh pada berbagai ketinggian tempat, bahkan mendekati 0 m dpl, tempat tumbuh terbaik berada pada ketinggian tempat antara 400-1.500 m dpl.

Iklim

Pohon pinus cocok jika ditanam pada daerah bertipe iklim a dan b (Schmidt & Ferguson) dengan curah hujan sekurang-kurangnya 2.000 mm/tahun dan jumlah bulan kering 0-3 bulan.

C. Perbanyakan Tanaman

Perbanyakan pohon pinus dilakukan dengan cara generatif. Adapun proses perbanyakannya melalui beberapa tahap berikut :

1. Pengadaan biji

Biji Pinus merkusii yang diambil dari kerucut yang sudah masak mempunyai viabilitas dan daya kecambah tinggi. Kerucut buah masak ditandai dengan warnanya yang hijau kecokelatan dan sisik kerucut yang melebar serta berwarna sedikit kebiruan. Pengumpulan buah bisa dilakukan setiap tahun karena tanaman  pinus berbuah setiap tahun. Biji kering berisi antara 45.000-60.000 butir/kg. Sebelum ditabur, biji yang akan ditanam sebaiknya diseleksi terlebih dahulu. Biji yang baik mempunyai beberapa ciri, di antaranya kulit biji berwarna kuning kecokelatan dan berbintik hitam, berbentuk bulat, padat, dan tidak mengerut. Selain melalui penampilan,  seleksi biji juga dilakukan dengan cara perendaman. Biji yang baik untuk dijadikan benih akan tenggelam ke dalam air. Sebelum  ditabur, biji yang telah terpilih perlu direndam terlebih dahulu dalam air dingin selama 3-4 jam.

2. Penaburan biji

Pada tahap ini, hal yang perlu diperhatikan di antaranya  media semai. Media semai sebaiknya  memenuhi beberapa syarat berikut :

  • Bebas dari hama dan penyakit (steril).
  • Cukup berpori dan tidak terlalu padat.
  • Merangsang proses ·perkecambahan.

Berdasarkan persyaratan tersebut, bahan campuran yang bisa digunakan sebagai media semai berupa pasir berukuran 2 mm dan tanah (humus) halus dengan perbandingan 1:2. Selanjutnya Campuran bahan tersebut disterilkan dengan cara disangrai selama 4-6 jam dan dijemur di bawah terik matahari. Media yang sudah siap digunakan kemudian dimasukkan ke dalam bak plastik setinggi 5 cm. Letakkan bak tersebut di atas rak-rak dalam bedeng penaburan atau ruang kaca. Kemudian benih yang terpilih dihamburkan kebak tabur dan ditutup dengan bahan media tabur setebal tinggi benih. Setelah 10-15 hari penaburan, benih akan berkecambah dan proses perkecambahan ini berlangsung hingga satu bulan.

3. Penyapihan

Sebelum penyapihan dilakukan, siapkan kantong plastik yang telah diisi media tumbuh terlebih dahulu. Media tumbuh yang paling baik adalah campuran dari tanah, pasir, dan kompos dengan perbandingan 7:2:1 dengan penambahan pupuk NPK sebanyak 0,25 g/kantong yang berisi 300 g media. Oleh karena Pinus merkusi bersimbiosis dengan jamur/mikroriza, penularan mikroriza yang paling baik dilakukan pada saat pencampuran media tumbuh. Untuk itu, campurkan media tumbuh dalam setiap kantong plastik dengan tanah humus yang berasal dari bawah tegakan tua Pinus merkusi. Setelah berumur 5-8 minggu, bibit sudah bisa disapih. Pada umur tersebut, kulit biji sudah terlepas dari kecambah dan bibit telah memiliki daun jarum pertama. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara lain:

  • bibit ditanam tegak lurus
  • akar tidak boleh terlipat
  • hindarkan bibit dari kerusakan
  • lakukan penyapihan ditempat yang teduh.

4. Pemeliharaan benih semai

Dalam kegiatan ini, diperlukan penyiraman secara intensif dan hati-hati. Untuk menghindari terjadinya damping off diperlukan

penyemprotan dengan fungisida. Upayakan agar bibit terbebas dari gangguan rumput-rumput liar, serangga, maupun penyakit. Untuk itu kebersihan persemaian sangat menunjang keberhasilan bibit yang disapih. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan ini antara lain sebagai berikut :

  • Diperlukan naungan untuk menjaga kelembapan, menahan percikan air hujan, dan mengurangi penguapan.
  • Penyiraman secara teratur, satu kali pagi hariatau sore hari.
  • Pemupukan NPK perlu dilakukan dengan interval dua minggu sekali.
  • Penyulaman Sesegera mungkin pada kantong plastik yang bibitnya mati atau pertumbuhannya jelek.
  • Pembersihan rumput atau tumbuhan liar lainnya yang mengganggupertumbuhan tanaman muda.
  • Akar bibit yang keluar dari lubang kantong sebaiknya dipotong.

D. Penanaman

Penanaman meliputi dua kegiatan utama, yaitu persiapan lahan dan penanaman bibit di lahan yang telah disiapkan. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kedua aktivitas utama tersebut.

1. Persiapan lahan

Sebelum penanaman bibit di lahan pembesaran, terdapat beberapa kegiatan persiapan sebagai berikut.

  • Pembersihan lapangan dari tumbuhan pengganggu seperti alang-alang dan Semak belukar.
  • Pengolahan tanah (manual/mekanik), terutama pada pada lahan miring hendaknya memperhatikan kaidah pen-gawetan tanah agar terhindar dari erosi yang berlebihan.
  • Pemasangan ajir tanaman pada lahan miring sejajar garis kontur.
  • Pembuatan lubang tanam.

Pembibitan perlu dilakukan seaman dan semurah mungkin, termasuk dalam hal pengangkutan yang harus dilakukan dengan hati hati untuk menghindari kerusakan pada bibit. Oleh karena itu, jumlah bibit yang diangkut perlu disesuaikan dengan kemampuan menanam. Hal tersebut bertujuan untuk menghindarkan penumpukan bibit di lapangan.

2. Penanaman

Saat penanaman, lepaskan kantong plastik bibit secara hati-hati agar media tumbuh tetap utuh. Kemudian masukkan bibit ke dalam lubang yang telah disiapkan. Lubang yang telah berisi bibit kemudian ditutup kembali dengan tanah galian dan pada bagian sekitar leher akar dipadatkan. Upayakan agar bibit tetap tegak. Penanaman bibit dilakukan pada permulaan musim hujan, yaitu pada saat curah hujan cukup merata. Sistem penanaman bisa dilakukan secara monokultur maupun tumpang sari. Jika menggunakan tumpang sari, sesuaikan jenis tanaman sela dengan tempat tumbuhnya.

E. Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan dilakukan agar tanaman muda mampu tumbuh menjadi tegakan akhir dengan kerapatan dan tingkat pertumbuhan yang diharapkan. Adapun kegiatan pemeliharaan meliputi hal-hal berikut ini.

1. Penyulaman

Penyulaman dilakukan jika ada bibit yang mati pada satu bulan pertama setelah penanaman. Penyulaman terus dilakukan sampai jumlah tanaman muda sesuai dengan kerapatan tegakan yang disyaratkan. Kegiatan ini sebaiknya dilaksanakan pada pertengahan musim hujan.

2. Penyiangan dan pendangiran

Penyiangan gulma dan tumbuhan lain yang mengganggu tanaman muda harus segera dilakukan. Hal tersebut dimaksudkan agar pinus terhindar dari persaingan untuk mendapatkan cahaya dan unsur hara dari dalam tanah. Sementara itu, pendangiran hanya dilakukan jika kondisi tanah telah padat atau berdrainase jelek. Pendangiran dilakukan di sekitar piringan dengan radius 0,5 meter dari pokok tanaman dan waktu pelaksanaannya bersamaan dengan penyiangan.

3. Pemberantasan hama dan penyakit

Tindakan yang paling menguntungkan dari kegiatan ini adalah mencegah penularan hama dan penyakit yang menyerang tanaman muda. Cara pencegahannya antara lain dengan cara fisik atau cara kimiawi. Namun demikian, harus selalu diupayakan agar penggunaannya tidak membahayakan tanaman. Hama dan penyakit pinus yang cukup membahayakan dan harus diwaspadai diantaranya sebagai berikut.

a. Kumbang Ambrosia

Serangga dari jenis Xyleborus sp. ini menyebabkan kerugian yang cukup besar dalam usaha perkayuan. Untuk menghindari serangan hama penggerek tersebut, dolok pinus harus segera dikeluarkan dari tempat penebangan paling lama satu minggu setelah penebangan.

b. Kutu lilin (pine Wooly adelgids)

Kutu lilin banyak menyerang tanaman pinus di Indonesia. Hama ini merupakan salah satu hama yang menyerang pinus dengan cara mengisap cairan pada pohon pinus sehingga bisa menimbulkan kematian. Gejala serangan terlihat dari munculnya bintik-bintik putih berukuran kecil yang biasa ditemukan pada pucuk pohon dan batang dalam jumlah kecil. Bentuk tersebut menyerupai hifa berwarna putih bening dan lengket. Itulah cairan yang dikeluarkan hama kutu lilin Sebagai tempat rumah tinggal dan berkembang biaknya. Setelah itu, bintik-bintik putih akan semakin melebar dan membentuk kelompok-kelompok lapisan lilin. Kondisi tersebut akan terus berlangsung sampai lapisan putih menutupi seluruh permukaan kulit tanaman. Akibatnya, seluruh bagian tanaman kecuali daun, akan terlihat putih karena adanya senyawa lapisan lilin.

Pencegahan serangan kutu lilin dilakukan pada saat pohon pinus berumur 10 tahun, kandungan ekstrak n-heksan daun yang sehat sebanyak 3,90%; 4,15 % untuk daun yang terserang; 2,46% untuk cabang yang sehat; 2,83% untuk kulit cabang yang terserang. Untuk pinus umur 20 tahun, kandungan n-heksan daun yang sehat sebesar 3,38%; 3,73% untuk daun yang terserang; 2,49% untuk kulit cabang yang sehat; dan 2,95% untuk kulit cabang yang terserang.

4. Penjarangan

Penjarangan dimaksudkan untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih baik bagi tegakan selanjutnya. Dengan demikian, mutu tegakan dan volume tegakan akan meningkat. Pohon yang terserang hama dan penyakit, batang pokok yang bengkok, atau pun menggarpu perlu dibuang saat penjarangan. Penjarangan tegakan dilakukan sesuai dengan kerapatan tegakan, kesuburan tanah, dan sifat pertumbuhan pohon. Lakukan penjarangan beberapa saat setelah tajuk antara satu pohon dengan pohon lainnya saling bersinggungan.

5. Pengendalian kebakaran

Pohon Pinus merkusii sangat peka terhadap api. Sekali terjadi kebakaran, tanaman muda akan ikut musnah. Hal tersebut disebabkan adanya getah (damar) pada batangnya. Untuk mencegah kebakaran, terdapat beberapa tindakan pencegahan dini yang bisa dilakukan, yaitu sebagai berikut.

  • Buat jalur Sekat dan jalur hijau secara jelas dan tegas.
  • Bentuk satuan tugas pengendali kebakaran dan mengaktifkan ronda api.
  • Bangun sistem komunikasi yang menjangkau seluruh areal hutan dan sekitarnya.

F. Panen dan Pascapanen

Getah pinus sudah dapat diambil pada saat pohon pinus telah berumur 10 tahun. Untuk pemanfaatan kayu pinus sebagai bahan bangunan, panen bisa dilakukan pada saat pohon pinus berumur 30 tahun dengan taksiran produksi kayu tebal sebanyak 238-322 m3/ha. Sementara itu, untuk mendapatkan kayu pulp, daur panen pinus dilakukan setiap 10—15 tahun. Dalam pengelolaan HTI Pinus merkusi, sistem pemungutan hasil yang digunakan adalah Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Buatan.

Pinus memiliki sifat fisik dengan berat jenis kering udara 0,46-0,7, termasuk kelas awet IV, dan kelas kuat II-III. Teras dan gubal banyak mengandung resin. Kekerasan daya kembang-susut dan retak berada dalam tingkat sedang, sedangkan sifat pengerjaannya mudah dipapas tetapi agak sulit digergaji karena kandungan getah di dalamnya.

Beberapa pemanfaatan utama getah pinus di antaranya diolah menjadi gondorukem dan terpentin. Gondorukem digunakan sebagai campuran untuk batik tulis dan batik cetak, kertas, serta bahan campuran pembuatan sabun, cat, permis, kertas, semir sepatu, isolasi alat listrik, dan tinta cetak. Sementara itu, terpentin digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak cat, campuran bahan pelarut, industri farmasi, minyak pelumas, dan bahan kosmetika.

Gondorukem dan terpentin yang berasal dari Pinus merkusi memiliki karakteristik berbeda dengan gondorukem dan terpentin jenis pinus lainnya. Hal tersebut disebabkan gondorukem Pinus merkusi mengandung mercusic-acid dan terpentinnya mengandung alpha pinene yang tinggi (80%) sehingga sangat cocok sebagai bahan baku industri aromatika dan disinfektan. Adapun kayu pinus digunakan untuk berbagai kepentingan seperti bahan baku pulp dan kertas, papan partikel, korek api, kayu lapis, kayu konstruksi, perkakas, pensi, dan kayu bakar.

G. Analisis Usaha

Pohon Pinus merupakan jenis tanaman hutan yang cukup banyak ditanam. Selain sebagai tanaman peneduh jalan dan penghias taman, tanaman pinus juga kerap diusahakan sebagai tanaman hutan komersial karena kayu dan getahnya bisa digunakan untuk bahan baku industri. Analisis usaha digunakan untuk menjadikan gambaran dalam usaha budi daya pinus. Adapun asumsi yang digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut.

  • Tanaman pinus ditanam diatas lahan seluas 1 ha dengan sistem Sewa.
  • Sistem penanaman dilakukan secara monokultur, bukan tumpang Sari.
  • Untuk bisa dipanen kayunya, tanaman diperkirakan berumur 15 tahun.
  • Jarak tanam 8 m X 8 m – Getah mulai bisa diambil/panen pada umur ke-10 tahun.

Sumber: Tanaman Investasi Pendulang Rupiah; Abdul Qodir Hadi dan Rodame M. N.

>>> MAU TAU TIPS-TIPS TENTANG DUNIA INTERNET MARKETING GRATIS SELAMA 1,5 TAHUN BERNILAI PULUHAN JUTA RUPIAH?? YUK DAFTAR FREE MEMBERNYA KLIK DIBAWAH INI! <<<