Ide Bisnis Rumahan Yang Potensial, Usaha Abon Lele

usaha abon lele

usaha abon lele Selama ini kebanyakan orang memanfaatkan lele sebagai bahan baku usaha pecel lele yang memang tersebar luas di sepanjang kawasan Jawa.

Namun dari lele pula Anda bisa mengembangkan alternatif ide bisnis rumahan yang potensial dan tak kalah banyak penggemarnya yang merupakan usaha rumahan yang menjanjikan, yakni usaha abon lele.

Bila kebanyakan orang mengenal abon berasal dari daging sapi, maka kali ini Anda bisa menawarkan produk menarik abon dari daging ikan lele.

Daging lele yang lembut dan halus juga membuat abon lele bertekstur lebih halus dan sama sekali tidak liat. Rasa khas ikan lele yang gurih masih sangat kentara namun diserta aroma rempah dan bumbu yang membuatnya terasa lebih nikmat. Pada kesempatan ini kami akan mereview keberhasilan usaha abon lele di daerah sebrang di luar Jawa tepatnya di Bintan Kepulauan Riau.

Kisah Bisnis Rumahan Ibu Rumah Tangga : Usaha Abon Lele Bu Jumirah

usaha abon leleAdalah ibu Jumirah, seorang ibu paruh baya yang menjalankan bisnis rumahan yang menguntungkan ini sejak 3 tahun lalu di kawasan Kijang Bintan.

Kisah memulai usaha rumahan abon lele ini diawali dari masalah bisnis katering yang melelahkan. Katering adalah bisnis yang benar-benar kerja keras. Setiap kali ada pesanan, setiap kali banting tulang. Mulai dari belanja di pasar, meracik bumbu, memasak, menata menu, menghidangkan, hingga mencuci piring adalah proses yang mutlak ditempuh. Jika pesanan berbarengan, bisa dibayangkan betapa ribetnya.

Undangan dari Kerispena (Kerukunan Isteri Pensiunan Antam) mengundang saya kembali ke dapur. Itu terjadi tahun 2011. Kerispena menyelenggarakan pelatihan membuat abon lele. Rupanya, pelatihan itu difasilitasi oleh PT Antam – ChAIN Center UGM.

Dari sanalah muncul ide di benak Jumirah sebagai peluang bisnis rumahan. Dengan beberapa kali ujicoba akhirnya Jumirah percaya diri menemukan teknik pembuatan paling tepat untuk memproduksi abon lele secara massal.

Tak terduga. Ternyata laku. Pertama kali bikin 10 kg langsung habis. Tambah 10 kg habis. Terus begitu. Padahal kami hanya menawarkan dari rumah ke rumah. Juga di arisan. Kami bungkus plastik seadanya.

Kami sangat terkejut dengan kenyataan itu. Sebab, semula kami agak tidak yakin. Masyarakat Bintan tidak akrab dengan lele. Kami terbiasa dengan ikan laut. Diolah lele pun baru itu.

Rupanya, olahan abon mengubah persepsi masyarakat. Semula, lele dikenal sebagai ikan yang amis dan menjijikkan. Bau dan rasanya tak enak. Ternyata, ketika diolah menjadi abon, “Kok lebih enak dari abon daging ya.” Begitu komentar tetangga-tetangga.

Sejak itu, kami makin bergairah menjalankan usaha ini. Apalagi ada Bintania yang siap memasarkan produk yang kami beri merek “Abole”—abon lele. Juli 2012, Bintania menyerap 40 kg abon lele kami, Agustus 50 kg. Itu belum pesanan dari luar. Belum juga pembelian langsung ke rumah kami. Kemarin kami juga dapat order untuk melayani jemaah haji 2012 embarkasi batam sebanyak 550 kg untuk 11 ribu paket senilai Rp 77 juta. Wow, jumlah yang sangat besar buat kami.

usaha abon leleBisnis membuat abon lele kami jalani serius tapi santai. Dalam seminggu kami cukup bekerja 2 hari untuk menghasilkan 20 kg abon lele. Sekilo dijual Rp 140.000. Selebihnya, banyak waktu luang untuk keluarga. Juga banyak waktu luang untuk menyalurkan hobi. Saya suka merajut. Gayung pun bersambut. Pelatihan kerajinan tas yang diadakan PT Antam – ChAIN Center UGM saya ikuti dengan gembira. Asyiknya, tas-tas bikinan saya pun ada yang membeli. Setiap pameran ada saja yang laku. Pun ada sudah ada yang antri memesan.

Cara kerja produksi abon lele sangat berbeda dengan ketika mengerjakan pesanan katering. Saat itu, waktu, tenaga, dan pikiran saya benar-benar terkuras.

Meski lebih ringan, nyatanya usaha yang baru ini justru lebih menampakkan hasilnya. Setidaknya, kami bisa mendirikan rumah produksi yang terpisah dari rumah. Ruang produksi berukuran 6×3,5×3 m ini menghabiskan biaya Rp 27 juta. Biayanya kami peroleh dari pinjaman dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT Antam. Kami membayarnya secara mencicil, hasil dari penjualan abon lele.

Dengan rumah produksi yang berdiri sendiri, kami bisa bekerja lebih profesional. Rumah produksi merupakan tempat netral untuk bekerja. Kami bekerja berempat sekarang. Rata-rata, dalam sebulan, kami bekerja 15 hari saja.

Rumah produksi kami pun bersih. Berlantai keramik, dengan pencahayaan dan pembuangan udara yang terkontrol. Tempat penyembelihan ikan dan pembersihannya pun terpisah di belakang. Batas antara tempat kerja kering dan basah sangat jelas.

usaha abon leleKami pun mengimbanginya dengan kinerja yang sungguh-sungguh. Proses produksi kami lakukan dengan sepenuh hati. Selain bersih, kami juga wajib memastikan hilangnya bau amis pada lele. Semua pengetahuan itu kami peroleh dari pelatihan dan pendampingan PT Antam  – ChAIN Center UGM.

Dan pengetahuan yang sudah kami peroleh itu akan terus kami kembangkan. Kami percaya, peluang pengembangan produk lele masih sangat besar. Kami sedang menguji coba inovasi produk baru berbahan dasar lele. Kami coba bikin nugget dan bakso lele.

Lewat inovasi ini, kami ingin menyasar pasar yang lebih luas, terutama orang muda. Kami ingin membuktikan bahwa penghargaan yang pernah kami terima dari Kementerian Perdagangan, yakni “Penghargaan UKM Pangan Award 2011 untuk kategori produk makan siap saji kelompok usaha mandiri”, memang pantas kami dapatkan.

>>>MAU TAU TIPS-TIPS TENTANG DUNIA INTERNET MARKETING GRATIS SELAMA 1,5 TAHUN BERNILAI PULUHAN JUTA RUPIAH?? YUK DAFTAR FREE MEMBERNYA KLIK DIBAWAH INI!<<<